Bayangkan ini: pensiun itu seperti “tamu jauh” yang nggak pernah kita undang, tapi pasti datang. Lebih unik lagi, dia nggak pernah kasih kabar apalagi kirim pesan "OTW, ya", tiba-tiba pensiun sudah di depan pintu, sambil tersenyum bangga dan berkata, "Izin, pensiun datang." Yang jelas, apakah kita siap atau belum, dia tetap masuk, duduk santai, dan tentu bilang, “Izin, Bapak/Ibu, sekarang sudah waktunya.”
Isu pensiun memang aneh. Dia bukan gosip, omon-omon, atau isu panas yang cepat basi, tetapi juga bukan kenangan indah yang bikin kita kangen. Dibilang menakutkan, ya tidak juga. Tapi anehnya, banyak orang yang langsung gelisah begitu topik ini muncul. Di kantor, di kantin, di warung kopi, bahkan di grup WhatsApp keluarga, pensiun selalu jadi bahan obrolan yang menarik dan ujung-ujungnya sama: “Nanti saya mau ngapain, ya?”
Yang pasti, pensiun itu tidak bisa dihindari. Sama pastinya seperti deadline yang sering kita tunda, atau alarm pagi yang kita snooze berkali-kali. Cepat atau lambat, semua orang akan sampai di titik ini. Bukan karena kita tidak dibutuhkan lagi (ini yang sering bikin baper), tetapi karena aturan memang bilang, “Sudah cukup, silakan istirahat.”
Di tengah obrolan santai yang kadang diam-diam bikin jantung ikut deg-degan ini, Agus Riewanto menyampaikan (Kompas, 29 Maret 2026) bahwa Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 191/PUU-XIII/2025 telah mengoreksi aturan lama soal pensiun pejabat negara. Putusan membatalkan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1980 tentang Hak Keuangan/Administrasi Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara serta Bekas Pimpinan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Bekas Anggota Lembaga Tinggi Negara. Putusan ini menarik perhatian publik karena bukan sekadar koreksi pengaturan hak pensiun pejabat, melainkan juga mendorong agar negara perlu mereformasi dan menata ulang hak pensiun pejabat agar lebih adil, sensitif terhadap finansial negara, serta tak lagi berlaku untuk seumur hidup.
Jadi dahulu, ada ketentuan yang memungkinkan pensiun diberikan seumur hidup, bahkan bisa “diteruskan” ke pasangan atau anak. Sekilas terdengar nyaman, ya. Namun, di balik itu, muncul pertanyaan soal keadilan dan beban negara.
Kini, aturan tersebut dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi zaman. Sederhananya, pensiun tetap penting, tetapi tidak bisa lagi dipandang sebagai “jaminan abadi” tanpa batas. Ada kebutuhan untuk menata ulang agar lebih adil, masuk akal, dan tetap relevan dengan kemampuan negara saat ini.
Ini bukan sekadar soal angka, tetapi soal rasa keadilan dan kemampuan negara. Pesannya sederhana: pensiun tetap penting, tetapi tidak boleh lepas dari logika dan realitas zaman. Dan bagi kita semua, ini seperti pengingat halus, bahwa pensiun bukan sekadar “nanti dapat berapa”, tetapi juga “nanti mau jadi apa”. Jadi apapun situasinya, pensiun pasti akan datang dan tinggal menunggu waktu saja.
Yang menarik, pensiun itu tidak pernah benar-benar menunggu kesiapan pribadi. Tidak ada formulir persetujuan yang bertanya, “Apakah Anda siap pensiun?” Selama usia sudah mencapai batas, ya selesai. Mau kita lagi semangat-semangatnya kerja, lagi naik daun, atau baru saja menemukan ritme terbaik, aturan tetap aturan.
Karena itu, pensiun bukan sesuatu yang bisa dihadapi secara mendadak. Ini bukan seperti rapat dadakan yang bisa kita akali dengan improvisasi. Pensiun perlu direncanakan. Bukan hanya soal uang, tetapi juga soal mental dan cara kita memandang hidup setelah tidak lagi punya jabatan.
Nah, di sinilah mulai terasa “gatalnya”. Banyak orang selama ini menggantungkan identitas pada jabatan. Selama masih aktif, kita punya posisi, kewenangan, bahkan kadang-kadang, jujur saja, punya “pengaruh”. Telepon diangkat cepat, pesan dibalas sigap, undangan datang tanpa diminta. Tapi begitu pensiun? Semua itu bisa berubah drastis.
Dari “Pak Kepala” atau “Bu Direktur”, tiba-tiba jadi “Bapak di rumah”. Dari yang biasa memberi arahan, mendadak lebih sering diminta belanja ke pasar. Ini bukan tragedi, tetapi kalau tidak siap, bisa terasa seperti kehilangan arah.
Saya pernah bertanya kepada seorang pensiunan yang menurut saya sukses menikmati masa pensiunnya. Ia bilang, ada tiga hal yang biasanya “mengagetkan” saat pensiun. Pertama, hilangnya rutinitas. Tidak ada lagi jadwal berangkat pagi, rapat siang, atau lembur malam. Kedua, hilangnya relasi kerja formal. Tidak ada lagi bawahan, atasan, atau rekan kerja yang tiap hari berinteraksi. Ketiga, berkurangnya pendapatan dan status sosial.
Kalau tiga hal ini datang bersamaan tanpa persiapan, wajar jika banyak orang merasa kosong dan seperti berjalan tanpa arah. Bahkan, ada riset di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa pegawai yang memasuki masa pensiun mengalami peningkatan risiko masalah serius, seperti bunuh diri, perceraian, dan alkoholisme (Bondan Winarno).
Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masa pensiun dapat meningkatkan risiko depresi, terutama bagi mereka yang tidak siap menghadapinya. Di sinilah kita mulai memahami bahwa pensiun bukan hanya soal finansial, tetapi juga soal makna hidup.
Menariknya, tidak semua cerita pensiun berakhir “sendu”. Ada juga yang justru menemukan babak baru yang lebih menyenangkan. Saya pernah mendengar cerita seorang pensiunan yang masih sering datang ke kantor lamanya. Awalnya dikira belum bisa move on, ternyata ia diminta menjadi tenaga ahli. Pengalamannya masih dibutuhkan. Ilmunya masih relevan. Ia tetap berkarya, hanya dengan cara yang berbeda.
Artinya, pensiun tidak selalu berarti berhenti total. Pensiun bisa jadi perubahan jalur, bukan berhenti di ujung jalan.
Soalnya, pernah ada tulisan di majalah Fortune yang bilang, persiapan pensiun itu idealnya sudah dimulai sejak usia 25 tahun. Nah, kalau sekarang usia Anda sudah lewat dari itu… ya, jangan kaget, katanya sih, Anda sudah “terlambat”.
Jangan cemberut dulu, ini bukan vonis kiamat. Anggap saja sebagai pengingat halus (atau agak nyelekit dikit) bahwa makin cepat mulai, makin santai nanti menjalaninya. Daripada panik di ujung, mending mulai pelan-pelan dari sekarang.
Padahal, persiapan pensiun idealnya dimulai jauh sebelum masa itu datang. Bahkan sejak awal bekerja. Kalau hari ini usia Anda 30 atau 40 tahun, ini bukan terlalu cepat, justru sudah waktunya mulai.
Kalau ingin jadi penulis, mulailah menulis sekarang. Jangan tunggu pensiun baru pegang pena (atau keyboard). Kalau ingin jadi fotografer, mulailah belajar dari sekarang. Kalau ingin buka usaha, jangan tunggu uang pesangon turun baru panik cari konsep.
Membuka usaha, misalnya kafe atau toko kecil, itu bukan sekadar soal modal. Perlu pemahaman pasar, manajemen, dan pengalaman. Banyak usaha gagal bukan karena kekurangan uang, tetapi karena kurang persiapan.
Bagi para birokrat, sebenarnya ada “bonus waktu” yang sangat berharga, yaitu Masa Persiapan Pensiun (MPP). Ini semacam masa transisi yang sering dianggap angin lalu, padahal sangat strategis. Waktu ini bisa digunakan untuk mulai menata hidup: memperbaiki keuangan, mencoba aktivitas baru, atau sekadar melatih diri untuk hidup tanpa rutinitas kantor.
Sayangnya, tidak sedikit yang justru menggunakan masa ini untuk… ya, benar, “menikmati waktu santai” tanpa arah. Tidak salah, tetapi akan lebih bermanfaat jika disertai perencanaan.
Tidak sedikit orang mengira bahwa kunci pensiun bahagia adalah uang. Disadari ini penting, tetapi bukan satu-satunya. Ada pensiunan yang secara finansial cukup, tetapi merasa kehilangan peran. Karena itu, banyak instansi membentuk komunitas atau paguyuban pensiunan, sebagai ruang untuk tetap terhubung, berbagi, dan merasa “masih ada”.
Kita perlu sadar sesadar-sadarnya bahwa pensiun itu sebenarnya bukan hal yang harus dihindari. Dia itu sebetulnya tamu yang datang tepat waktu. Kalau kita sudah siap, kita bisa menyambutnya dengan santai, bahkan mungkin dengan secangkir kopi dan senyum dikulum.
Jadi, pertanyaannya sederhana: ketika “tamu” itu benar-benar mengetuk pintu, apakah kita sudah siap membuka, atau masih sibuk pura-pura tidak ada di rumah?



