Photo by Afif Ramdhasuma on Unsplash
Kalau Anda tinggal di Jakarta, kemungkinan besar istilah kota global sudah tidak asing lagi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan telah menetapkan arah pembangunan 2025–2029 dengan visi yang cukup jelas, yaitu mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian yang berdaya saing, berkelanjutan, serta menyejahterakan seluruh warganya.
Kedengarannya memang keren, modern, dan penuh optimisme. Namun, di balik ambisi tersebut, muncul pertanyaan sederhana yang sering terlupakan: sebenarnya apa yang dimaksud dengan kota global, dan mengapa banyak kota berlomba-lomba untuk meningkatkan peringkatnya dalam indeks kota global? Ceritanya begini.
Yang jelas, kota global tidak hanya dibangun dari beton, jalan layang, serta terpenuhinya sarana dan prasarana fisik semata. Lebih dari itu, kota global sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintah bekerja, serta bagaimana layanan sosial, ekonomi, budaya, dan politik dapat diakses oleh masyarakat secara mudah, terjangkau, dan berkualitas.
Meskipun infrastruktur fisik sudah maju, sebuah kota belum tentu dapat disebut sebagai kota global apabila infrastruktur sosial, ekonomi, dan budayanya belum kuat. Dengan kata lain, pembangunan fisik saja tidak cukup. Kota juga membutuhkan pembangunan nonfisik yang matang agar benar-benar mampu berfungsi sebagai kota global.
Untuk memahami hal itu, kita perlu mundur sedikit dan melihat apa sebenarnya yang dimaksud dengan kota. Menurut Max Weber, kota bukan sekadar kumpulan bangunan, jalan raya, atau pusat perbelanjaan. Kota adalah sebuah ruang dengan struktur sosial yang kompleks. Di dalamnya, masyarakat terbagi dalam berbagai kelompok, memiliki peran ekonomi yang berbeda, dan terus berinteraksi dalam kehidupan sosial, politik, serta budaya yang dinamis. Artinya, kota itu hidup, ramai, dan kadang juga ruwet.
Pandangan ini mengingatkan kita bahwa membangun kota tidak cukup hanya dengan menghadirkan gedung-gedung tinggi atau infrastruktur megah. Kota juga membutuhkan tata kelola yang baik, aturan yang jelas, serta sumber daya manusia yang mampu mengelola kompleksitas tersebut. Tanpa itu, kota bisa saja terlihat modern dari luar, tetapi sebenarnya tidak berjalan dengan baik di dalam.
Pandangan ini kemudian diperkaya oleh Jane Jacobs yang melihat kota sebagai sebuah ekosistem hidup. Kota ibarat organisme yang memiliki “denyut nadi” dalam bentuk aktivitas ekonomi, “pembuluh darah” berupa jaringan jalan, dan “ruang bernapas” melalui ruang publik yang aktif. Jika salah satu bagian tidak berfungsi, maka kehidupan kota juga akan terganggu. Maka tidak heran jika kota sering terasa seperti makhluk hidup yang bisa berkembang, tetapi juga bisa “sakit” jika tidak dikelola dengan baik.
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin terhubungnya dunia, kota tidak lagi berdiri sendiri. Kota-kota mulai saling terhubung, bersaing, dan bahkan berkolaborasi dalam skala global. Dari sinilah muncul konsep kota global, sebuah istilah yang belakangan ini semakin sering kita dengar. Kota global pada dasarnya adalah kota yang tidak hanya melayani kebutuhan warganya sendiri, tetapi juga memiliki peran dalam sistem ekonomi dan interaksi dunia. Kota seperti ini menjadi pusat bisnis, investasi, inovasi, serta pertukaran budaya yang melibatkan berbagai negara.
Namun, menjadi kota global tentu bukan perkara sederhana. Kota global harus mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi berbagai kepentingan. Ia harus nyaman bagi warganya, menarik bagi investor, ramah bagi wisatawan, dan tetap mampu menjalankan fungsi dasarnya sebagai tempat tinggal. Bayangkan sebuah kota yang setiap hari harus “melayani dunia”, tetapi di saat yang sama tetap harus memastikan warganya bisa hidup dengan layak dan tidak stres menghadapi rutinitas sehari-hari.
Di sinilah tantangan sebenarnya muncul. Menjadi kota global bukan sekadar soal citra atau label, melainkan tentang kemampuan kota untuk bertransformasi secara menyeluruh. Kota harus terus berbenah, memperbaiki sistem, meningkatkan pelayanan, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Proses ini tentu tidak instan. Dibutuhkan perencanaan yang matang, kerja sama berbagai pihak, serta komitmen yang konsisten dalam jangka panjang.
Menurut Kearney, pada 2025 posisi Jakarta dalam Global Cities Index naik ke peringkat 71 dari 158 kota, membaik dari posisi 74 tahun sebelumnya. Meski masih di bawah kota-kota besar seperti New York, London, Paris, Tokyo, dan Singapura, Jakarta menunjukkan kemajuan, terutama di aktivitas bisnis dan kualitas SDM. Peningkatan ini didorong konektivitas transportasi seperti MRT/LRT dan akses tenaga kerja. Namun, Jakarta masih perlu memperkuat digitalisasi, pariwisata berkelanjutan, serta peran global, termasuk pengembangan energi hijau, ketahanan kota, dan talenta siap AI.
Lalu, mengapa Jakarta perlu menjadi kota global? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Dunia saat ini bergerak sangat cepat, dan kota-kota besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi serta inovasi. Jika Jakarta ingin tetap relevan, meningkatkan daya saing, dan membuka peluang yang lebih luas bagi warganya, maka menjadi kota global adalah langkah yang logis. Dengan status tersebut, Jakarta dapat menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Namun, di tengah semua ambisi itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Kota pada akhirnya adalah tentang manusia. Kota global yang baik bukan hanya yang memiliki gedung pencakar langit atau sistem transportasi modern, tetapi yang mampu memberikan rasa nyaman, aman, dan bahagia bagi warganya. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari seberapa dikenal di dunia, tetapi dari seberapa layak kota tersebut untuk ditinggali.
Maka mungkin, tantangan terbesar Jakarta bukan sekadar menjadi kota global, tetapi menjadi kota global yang tetap manusiawi. Kota yang tidak hanya sibuk mengejar pengakuan dunia, tetapi juga memastikan warganya bisa hidup nyaman, tidak cuma keren di foto, tetapi juga enak dijalani setiap hari.
Karena pada akhirnya, kota terbaik bukan yang paling sering disebut di forum internasional, melainkan yang benar-benar terasa manfaatnya oleh warganya sendiri. Kabar baiknya, Jakarta tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan yang paling utama hanyalah birokrasi yang mampu mengubah potensi itu menjadi kenyataan, bukan sekadar hanya rencana di atas kertas.
Tentu, ini bukan pekerjaan satu pihak. Diperlukan kolaborasi semua elemen: pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, hingga media, semuanya memiliki peran penting. Jadi, jika Jakarta benar-benar menjadi kota global, harapannya bukan hanya global dalam nama, tetapi juga terasa nyata bagi semua. Kini saatnya kita mengambil peran dan bersama-sama berkontribusi dalam meningkatkan posisi Jakarta di tingkat kota global dunia. Kita siap dan pasti bisa, semoga.



